Jumat, 09 Maret 2012

MAKALAH EPISTEMOLOGI & LOGIKA PENDIDIKAN



TEORI KEBENARAN
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Epistimologi dan Logika Pendidikan



JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb
            Alhamdulillah segala puja puji syukur kami panjatkan ke hadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh kaum muslimin dan muslimat yang setiasa istikomah mengikuti petunjuknya.
            Berkat rahmat dan pertolongan Allah SWT, penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Epistimologi dan Logika Pendidikan, Selain itu juga sebagai media latihan untuk bertanggung jawab atas tugas yang telah diberikan.
            Dalam kesempatan ini, tidak lupa pula penyusun mengucapkan terima kasih atas bantuan, dorongan, pengarahan serta dukungannya kepada:
1.         Allah SWT
2.         Bapak Arif Rohman, M.Pd, selaku Dosen mata kuliah Pendidikan Anak Tunarungu
4.         Segenap teman-teman seperjuangan
5.         Seluruh keluarga yang tercinta dan semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Penyusun menyadari sepenuhnya, bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif. Besar harapan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Yogyakarta,  November 2011


Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk yang mempunyai rasa keingintahuan  yang  besar  terhadap suatu ilmu yang belum di ketahuinya.  Ilmu pengetahuan sangat bermanfaat bagi manusia dalam menjalani kehidupan di masyarakat. Sebagai hewan atau makhluk yang berakal, manusia tidaklah sekedar hidup pasif akan tetapi ia selalu aktif. Manusia selalu ikut merancang dan mencipta kehidupannya sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Akal pikiran yang ada dalam manusia harus dikembangkan secara kreatif dan diasah. Apabila manusia memiliki akal tapi tidak memiliki tindakan yang sesuai dan benar maka akan mengakibatkan ketidakseimbangan dalam bersosialisasi di masyarakat.
Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti. Ilmu pengetahuan harus dibedakan dari fenomena alam. Fenomena alam adalah fakta, kenyataan yang tunduk pada hukum-hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul. Ilmu pengetahuan adalah formulasi hasil aproksimasi atas fenomena alam atau simplifikasi atas fenomena tersebut. Jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksanakan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran, tanpa melaksanakan kebenaran tersebut manusia akan mengalami pertentangan batin, konflik spikologis. Menurut para ahli filsafat itu bertingkat-tingkat bahkan tingkat-tingkat tersebut bersifat hirarkhis. Kebenaran yang satu di bawah kebenaran yang lain tingkatan kualitasnya ada kebenaran relatif, ada kebenaran mutlak (absolut). Ada kebenaran alami dan ada pula kebenaran illahi, ada kebenaran khusus individual, ada pula kebenaran umum universal.
Struktur pengetahuan manusia menunjukkan tingkatan-tingkatan dalam hal menangkap kebenaran. Setiap tingkat pengetahuan dalam struktur tersebut menunjukkan tingkat kebenaran yang berbeda. Pengetahuan inderawi merupakan struktur terendah dalam struktur tersebut. Tingkat pengetahuan yang lebih tinggi adalah pengetahuan rasional dan intuitif. Tingkat yang lebih rendah menangkap kebenaran secara tidak lengkap, tidak terstruktur, dan pada umumnya kabur, khususnya pada pengetahuan inderawi dan naluri. Oleh sebab itulah pengetahuan ini harus dilengkapi dengan pengetahuan yang lebih tinggi. Pada tingkat pengetahuan rasional-ilmiah, manusia melakukan penataan pengetahuannya agar terstruktur dengan jelas.
Teori koherensi menjadi dasar dalam pengembangan ilmu deduktif atau matematik. Nama ilmu deduktif diberikan karena dalam menyelesaikan suatu masalah atau membuktikan suatu kebenaran tidak didasarkan pada pengalaman atau hal-hal yang bersifat faktual, melainkan didasarkan atas deduksi-deduksi atau penjabaran-penjabaran.
Jadi dalam makalah ini kami akan membahas tentang teori kebenaran dengan lebih sederhana yang diharapkan pembaca akan memahami makalah yang dibuat oleh penulis dan memudahkan pembaca dalam menguasai konsep kebenaran serta teori koherensi.

B.     Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan kebenaran?
2.    Apa pengertian teori koherensi yang diterapkan?
3.    Apa saja kelebihan dan kelemahan teori koherensi?

C.     Tujuan Makalah
1.    Mengetahui tentang pengertian kebenaran yang telah ada.
2.    Memberikan informasi kepada pembaca tentang teori koherensi.
3.    Mengetahui kelebihan dan kelemahan teori koherensi.




BAB II
PEMBAHASAN
A.   KEBENARAN
Kebenaran merupakan suatu nilai utama di dalam kehidupan manusia. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran. Berdasarkan scope potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi :
1.      Tingkatan kebenaran indera merupakan tingkatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia
2.      Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indera,  kemudian diolah  dengan rasio
3.      Tingkat filosofis, rasio dan pikiran murni, perenungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya
4.      Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.
Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat dasarnya terdorong pula untuk melaksanakan benaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran, meskipun tidak ada konflik namun terjadi pertentangan dalam batin manusia,  karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi kebenaran dalam kehidupannya. Manusia tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang selalu ditunjukkan oleh kebenaran. Kebenaran sesungguhnya merupakan tema sentral di dalam filsafat ilmu. Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran. Problematik mengenai kebenaran merupakan masalah yang mengacu pada tumbuh dan berkembangnya dalam filsafat ilmu.
Dalam kamus umum Bahasa Indonesia (oleh Purwadarminta), ditemukan arti kebenaran, yaitu:
1.      Keadaan yang benar (cocok dengan hal atau keadaan sesungguhnya);
2.      Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada, betul demikian halnya);
3.      kejujuran, ketulusan hati;
4.      Selalu izin, perkenanan;
5.      Jalan kebetulan.
Setelah mengetahui definisi dan pengertian kebenaran. Disini akan dijelaskan mengenai jenis-jenis kebenaran. Kebenaran dapat dibagi dalam tiga jenis menurut telah dalam filsafat ilmu, yaitu:
1.    Kebenaran Epistemologikal, adalah kebenaran dalam hubungannya dengan pengetahuan manusia,
2.    Kebenaran Ontologikal, adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat kepada segala sesuatu yang ada maupun diadakan.
3.    Kebenaran Semantikal, adalah kebenaran yang terdapat dalam bahasa.
Karena kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan, dan nilai itu sendiri, maka setiap subjek yang memiliki pengetahuan akan memiliki persepsi dan pengertian yang berbeda satu dengan yang lainnya, dan disitu terlihat sifat-sifat dari kebenaran. Sifat kebenaran dapat dibedakan menjadi tiga hal, yaitu:
1.      Kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan, dimana setiap pengetahuan yang dimiliki dari jenis pengetahuan yang dibangun. Pengetahuan itu berupa:
a.    pengetahuan biasa atau disebut ordinary knowledge atau common sense knowledge. Pengetahuan seperti ini memiliki inti kebenaran yang sifatnya subjektif, artinya terikat pada subjek yang mengenal
b.    pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah menetapkan objek yang khas atau spesifik dengan menerapkan metodologi yang telah mendapatkan kesepakatan para ahli sejenis. Kebenaran dalam pengetahuan ilmiah selalu mengalami pembaharuan sesuai dengan hasil penelitian yang penemuan mutakhir.
c.     Pengetahuan filsafat, yaitu jenis pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafat, bersifat mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran analitis, kritis, dan spekulatif. Sifat kebenaran yang terkandung adalah absolute-intersubjektif.
d.    Kebenaran pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan agama. Pengetahuan agama bersifat dogmatis yang selalu dihampiri oleh keyakinan tertentu sehingga pernyataan dalam kitab suci agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk memahaminya.
2.      Kebenaran dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana cara seseorang membangun pengetahuannya. Implikasi dari penggunaan alat untuk memperoleh pengetahuan akan mengakibatkan karakteristik kebenaran yang dikandung oleh pengetahuan akan memiliki cara tertentu untuk membuktikannya. Jadi jika membangun pengetahuan melalui indera atau sense experience, maka pembuktiannya harus melalui indera pula.
3.      Kebenaran dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan. Membangun pengetahuan tergantung dari hubungan antara subjek dan objek yang lebih dominan. Jika subjek yang berperan, maka jenis pengetahuan ini mengandung nilai kebenaran yang bersifat subjektif. Sebaliknya, jika objek yang berperan, maka jenis pengetahuannya mengandung nilai kebenaran yang sifatnya objektif.
Kebenaran dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak. Adapun kebenaran dapat berkaitan dengan :
1.      Kualitas pengetahuan
Artinya bahwa setiap pengetahuan yang diketahui oleh seseorang tentang suatu obyek ditinjau dari pengetahuan yang dibangun. Pengetahuan tersebut berupa :
a.    Pengetahuan biasa yang sifatnya subyektif
b.    Pengetahuan ilmiah yang bersifat relative
c.    Pengetahuan filasafati yang sifatnya absolut-intersubyektif
d.    Pengetahuan agama yang bersifat absolute
2.      Karakteristik cara membangun pengetahuan:
a.    Penginderaan/ sense experience
b.    Akal pikir/ ratio/ intuisi
c.     Keyakinan
3.      Jenis pengetahuan menurut kriteria karakteristik:
a.       Pengetahuan indrawi
b.      Pengetahuan akal budi
c.       Pengetahuan intuitif
d.      Pengetahuan kepercayaan/ pengetahuan otoritatif
e.       Pengetahuan lain-lain
4.     Ketergantungan terjadinya pengetahuan, artinya bagaimana hubungan subjek dan objek. Bila yang dominan subjek maka sifatnya subjektif, sebaliknya bila yang dominan objek maka sifatnya objektif.
B.  TEORI KOHERENSI
Teori koherensi adalah teori kebenaran sebagai keteguhan hati. Teori koherensi juga disebut sebagai teori konsistensi. Teori ini dianut oleh beberapa  kaum rasionalis seperti Leibniz, Benedictus Spinoza, Descartes, George Hegel, dsb. Menurut teori ini, kebenaran tidak ditemukan dalam kesesuaian antara proposisi dengan kenyataan melainkan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang sudah ada.  Maksud dari hal tersebut suatu akan menjadi suatu pernyataan yang benar jika pernyataan yang lain yang sejenis merupakan hal yang benar. Maka suatu pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi, atau hipotesis dianggap benar jika semua itu memperkuat penemuan sebelumnya yang dianggap benar. Bagi kaum rasionalis, benar dan tidaknya pengetahuan diperoleh dari rasional manusia.
Pernyataan adalah benar apabila konsisten dengan pernyataan yang terlebih dahulu diterima dan diketahui kebenarannya. Salah satu dasar teori ini adalah hubungan logis dari suatu proposisi dengan proposisi sebelumnya. Proposisi atau pernyataan adalah apa yang dinyatakan, diungkapka pada rumusan verbal berupa rangkaian kata-kata yang digunakan untuk dikemukakan. Proposisi menunjukkan pendirian atau pendapat tentang hubungan antara dua hal dan merupakan gabungan antara faktor kuantitas dan kualitas. Contohnya tentang hakikat manusia, baru dikatakan utuh jika dilihat hubungan antara kepribadian, sifat, karakter, pemahaman dan pengaruh lingkungan. Psikologi strukturalisme berusaha mencari susunan sifat-sifat manusia dan hubungan yang tersembunyi dalam kepribadiannya. Pengetahuan rasional yang berdasarkan logika tidak hanya terbatas pada kepekaan indera tertentu dan tidak hanya tertuju pada objek-objek tertentu. Gagasan yang masuk akal dan positif cenderung untuk menyisihkan seluruh pemahaman yang didapat secara tiba-tiba. Pemikiran rasional cenderung bersifat subyektif. Adanya keterkaitan antara materi dengan non materi, dunia fisik dan non fisik ditolak secara logika. Apabila kerangka ini digunakan secara luas dan tak terbatas, maka manusia akan kehilangan cita rasa batiniahnya yang berfungsi pokok untuk menumbuhkan apa yang diinginkan seluruh manusia yaitu kebahagiaan.
Matematika dan ilmu-ilmu pasti lainnya sangat menekankan teori ini.
Menurut para penganut teori ini, mengatakan bahwa suatu pernyataan benar atau salah, adalah mengatakan bahwa itu berkaitan dan
meyakinkan pernyataan yang lain atau tidak. Dengan kata lain, pernyataan itu benar jika pernyataan itu cocok dengan sistem pemikiran yang ada. Maka kebenaran sesunguhnya hanya berkaitan dengan implikasi logis dari sistem pemikiran yang ada. Misalnya:
(1) Semua makhluk hidup pasti mati;
(2) manusia adalah makhluk hidup;
(3) manusia pasti mati.
Kebenaran (3) hanya merupakan implikasi logis dari sistem pemikiran yang ada, yaitu (1) Semua manusia pasti mati, dan (2) Sokrates adalah manusia. Dalam arti ini, kebenaran (3) sesungguhnya sudah terkandung dalam kebenaran (1). Oleh karena itu, kebenaran (3) tidak ditentukan apakah dalam kenyataannya Sokrates mati atau tidak. Dalam menentukan suatu pernyataan benar atau tidak maka dalam menggunakan teori koherensi mengambil kesimpulan tersebut dengan melihat pernyataan-pernyataan yang telah ada.
Teori kebenaran sebagai keteguhan lebih menekankan kebenaran rasional-logis dan juga cara kerja deduktif. Dalam hal ini berarti, pengetahuan yang benar hanya dideduksikan atau diturunkan sebagai konsekwensi logis dari pernyataan-pernyataan lain yang sudah ada, dan yang sudah dianggap benar. Konsekuensinya, kebenaran suatu pernyataan atau pengetahuan sudah pasti kebenarannya tanpa perlu dicek dengan kenyataan yang ada. Bagi kaum rasionalis, “Lilin mendidih jika dimasukkan ke dalam air yang sedang mendidih” sudah merupakan suatu pengetahuan yang kebenarannya sudah pati. Sama halnya juga dengan hukum inflasi atau hukum penawaran dan permintaan. Kedua, dengan demikian teori kebenaran sebagai keteguhan lebih menekankan kebenaran.
Validasi memperlihatkan apakah kesimpulan yang mengandung kebenaran tadi memang diperoleh secara valid dari proposisi lain yang telah diterima sebagai kebenaran. Salah satu kesulitan teori ini karena kebenaran suatu pernyataan didasarkan pada kaitannya dengan pernyataan lain. Kebenarannya ditentukan berdasarkan fakta apakah pernyataan tersebut sesuai dengan pernyataan yang lain. Hal ini akan berlangsung terus sehingga akan terjadi, tidak bisa dibantah bahwa teori kebenaran sebagai keteguhan ini penting, dalam kenyataan perlu digabungkan dengan teori kebenaran sebagai kesesuaian dengan realitas. Dalam situasi tertentu kita tidak selalu perlu mengecek apakah suatu pernyataan adalah benar, dengan kembalinya pada realitas. Sebagai perbandingan, kita dapat membuat pembedaan antara kebenaran empiris dan kebenaran logis sebagai berikut:
·      Kebenaran Empiris:
1.    mementingkan objek
2.    menghargai cara kerja induktif dan aposteriori dan
3.    lebih mengutamakan pengamatan indera.
·      Kebenaran Logis
1.     mementingkan subjek;
2.    menghargai cara kerja deduktif dan apriori
3.    lebih mengutamakan penalaran akal budi.
Pentingnya kedua kebenaran ini sangat ditekankan oleh Imanuel kant. Bagi Kant, baik akal budi maupun panca indera mempunyai peran penting untuk melahirkan pengetahuan manusia. Karena syarat mutlak bagi adanya pengetahuan adalah kebenaran, Kant pun sangat menekankan baik kebenaran logis yang diperoleh melalui penalaran akal budi, maupun kebenaran empiris yang diperoleh dengan bantuan panca indera yang menunjukkan data-data tertentu. Pentingnya kedua kebenaran ini saling menunjang terutama agar kita tidak terjebak pada silogisme dan retorika kosong. Karena seringkali suatu pernyataan sangat benar dari segi logis, tetapi sama sekali tidak didukung oleh fakta empiris. Banyak ahli atau pengamat sosial melontarkan pernyataan yang sangat rasional dan sulit terbantahkan secara logis, namun sama sekali tidak benar karena tidak didukung fakta. Tetapi sebaliknya pernyataan yang didukung oleh fakta, haruslah bisa dijelaskan secara rasional (masuk akal) untuk menunjukkan keterkaitannya yang rasional. Maka, kebenaran ilmiah haruslah memenuhi kedua kriteria yaitu empiris dan rasional. Teori ini merupakan suatu usaha pengujian (test) atas arti kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap reliable jika kesan yang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain. Menurut teori consistency untuk menetapkan suatu kebenaran bukanlah didasarkan atas hubungan subyek dengan realitas obyek. Sebab apabila didasarkan atas hubungan subyek (ide, kesannya dan comprehensionnya) dengan obyek, pastilah ada subyektivitasnya. Oleh karena itu pemahaman subyek yang satu tentang sesuatu realitas akan mungkin sekali berbeda dengan apa yang ada di dalam pemahaman subyek lain. Teori ini dipandang sebagai teori ilmiah yaitu sebagai usaha yang sering dilakukan di dalam penelitian pendidikan khsusunya di dalam bidang pengukuran pendidikan. Teori konsisten ini tidaklah bertentangan dengan teori korespondensi. Kedua teori ini lebih bersifat melengkapi. Teori konsistensi adalah pendalaman dan kelanjutan yang teliti dan teori korespondensi. Teori korespondensi merupakan pernyataan dari arti kebenaran. Sedah teori konsistensi merupakan usaha pengujian (test) atas arti kebenaran tadi. Teori koherensi (the coherence theory of trut) menganggap suatu pernyataan benar bila di dalamnya tidak ada perntentangan, bersifat koheren dan konsisten dengna pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar. Dengan demikian suatu pernyataan dianggap benar, jika pernyataan itu dilaksanakan atas pertimbangan yang konsisten dan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya. Jika A = B dan B = C maka A = C Logika matematik yang deduktif memakai teori kebenaran koherensi ini. Logika ini menjelaskan bahwa kesimpulan akan benar, jika premis yang digunakan juga benar. Teori ini digunakan oleh aliran metafisikus rasional dan idealis. Suatu teori dianggap benar apabila telah dibuktikan (klasifikasi) benar dan tahan uji. Kalau teori ini bertentangan dengan data terbaru yagn benar atau dengan teori lama yang benar, maka teori itu akan gugur.
C. Kelebihan dan Kelemahan Teori Koherensi
Suatu teori pastilah memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan teori koherensi adalah tidak perlu adanya percobaan sehingga waktu yang digunakan tidak banyak atau tidak lama dalam menentukan suatu pernyataan benar atau tidak. Teori koherensi menyatakan suatu pernyataan benar atau tidak dilihat dari pengalaman atau kebenaran yang telah ada sebelumnya. Jadi disini teori koherensi menyatakan suatu kebenaran dengan kebenarab sebelumnya.
 Dalam hal ini kelemahan teori koherensi adalah bahwa baik teorema matematika  dan logika tidak bicara tentang dunia nyata, sehingga kebenarannya hanya kebenaran formal. Dengan demikin teori koherensi lingkupnya cukup terbatas. Kebenaran mengenai kenyataan faktual tidak bisa dideduksikan dari sistem aksioma. Sesuatu yang benar secara koheren, belum tentu ada dalam kenyataan. Seseorang dapat saja membuat penalaran yang runtut atau menceriterakan suatu kisah yang runtut, tetapi hanya cerita khayal.





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.    Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran.
2.    Teori koherensi adalah teori kebenaran sebagai keteguhan hati. Teori koherensi juga disebut sebagai teori konsistensi. Teori ini dianut oleh beberapa  kaum rasionalis seperti Leibniz, Benedictus Spinoza, Descartes, George Hegel, dsb. Menurut teori ini, kebenaran tidak ditemukan dalam kesesuaian antara proposisi dengan kenyataan melainkan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang sudah ada. 
3.    Kelebihan teori koherensi adalah tidak perlu adanya percobaan sehingga waktu yang digunakan tidak banyak atau tidak lama dalam menentukan suatu pernyataan benar atau tidak. sedangkan kelemahan teori koherensi adalah bahwa baik teorema matematika  dan logika tidak bicara tentang dunia nyata, sehingga kebenarannya hanya kebenaran formal. Dengan demikin teori koherensi lingkupnya cukup terbatas.

B.     Saran
1.    Bagi Penulis
a.    Penulis sebaiknya memahami teori koherensi yang telah disusun dalam makalah ini.
b.    Penulis diharapkan mampu memaparkan dan menjelaskan teori koherensi di dalam makalah.
c.    Diharapkan untuk memahami dan mendalami semua teori-teori yang ada tidak hanya teori koherensi saja.

2.    Bagi Pembaca
a.    Pembaca diharapkan mengetahui dan memahami teori koherensi dengan lebih mendalam.
b.    Pembaca diharapkan dapat menerapkan teori koherensi dalam kehidupan sehari-hari.





DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Teori Kebenaran Pengetahuan dan Teori Kebenaran Ilmiah (Tugas makul Filsafat Ilmu). Diunduh  pada file:///E:/MATA%20KULIAH/ EPILOG% 20PEND /Teori%20 Kebenaran%2coretantintadwi.htm pada tanggal 25 Oktober 2011

Intan, Irawati. 2008 .  Teori Kebenaran dalam Pengetahuan. Diunduh pada file:/// E:/ MATA%20KULIAH/EPILOG%20PEND/berita.php.htm pada tanggal 25 oktober 2011
Rohman, Arif dkk. 2010. Mengenal Epistimologi dan Logika Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press



Tidak ada komentar: